Musim kemarau tahun ini membawa dampak kesehatan yang serius. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menembus angka 400 ribu per minggu sepanjang 2026. Salah satu pemicu utamanya adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghasilkan kabut asap pekat di sejumlah wilayah.

Baca juga: Kemenkes: Influenza Masih Terkendali, Ini Cara Lindungi Diri Jelang Akhir Tahun

Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh. Kabut asap membawa partikel halus yang bisa masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari batuk, pilek, sesak napas, hingga memperparah penyakit paru yang sudah ada.

Angka Kasus di Wilayah Terdampak

Data Kemenkes menunjukkan setidaknya 113.336 kasus ISPA tercatat di wilayah yang terdampak langsung karhutla hingga 9 September 2026, tersebar di 63 kabupaten dan kota. Untuk merespons situasi ini, Kemenkes mengerahkan ratusan tenaga kesehatan ke wilayah-wilayah yang paling terdampak.

Langkah ini dilakukan agar masyarakat di daerah rawan kabut asap tetap mendapatkan layanan kesehatan yang memadai di tengah kondisi udara yang memburuk.

Cara Melindungi Diri dari Kabut Asap

Selain mengandalkan penanganan pemerintah, kamu juga bisa mengambil langkah sederhana untuk melindungi diri dan keluarga:

  • Gunakan masker. Pilih masker yang mampu menyaring partikel halus saat beraktivitas di luar ruangan.
  • Batasi aktivitas luar ruangan. Jika tidak mendesak, sebaiknya tetap di dalam rumah terutama saat kualitas udara buruk.
  • Tutup ventilasi dan jendela. Cegah asap masuk ke dalam rumah dengan menutup rapat pintu dan jendela.
  • Gunakan pembersih udara. Air purifier bisa membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
  • Perbanyak minum air putih. Cairan membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan.
  • Waspadai gejala. Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas atau batuk berkepanjangan.

Kesehatan Adalah Prioritas

Musim karhutla memang membawa tantangan tersendiri. Namun dengan kewaspadaan dan kebiasaan melindungi diri yang konsisten, risiko gangguan pernapasan bisa ditekan. Jangan tunggu sampai kondisi memburuk, mulailah lindungi dirimu dan orang-orang terdekat sejak dini.

Sumber: Antara