Dokter: Jangan Terjaga Lebih dari 16 Jam Berturut-turut, Ini Alasannya

Tuntutan keluarga, stres pekerjaan, hingga kondisi medis sering kali jadi biang kerok rusaknya kualitas tidur di malam hari. Padahal, kurang tidur bisa memicu dampak buruk bagi tubuh, mulai dari peningkatan risiko obesitas, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2. Para dokter menegaskan bahwa tidur nyenyak sama pentingnya dengan olahraga dan pola makan sehat.

Baca juga: Night Owl vs Morning Lark: Mana yang Lebih Cerdas? Ini Kata Studi Terbaru

Baca juga: Cara Menjaga Postur Tubuh saat Kerja di Depan Laptop agar Tidak Sakit Punggung

Baca juga: Cara Mengurangi Konsumsi Kopi Berlebihan agar Tidur Tetap Nyenyak dan Tidak Cemas

Baca juga: Cara Mengatur Pola Tidur saat Jadwal Kerja Berubah-ubah agar Tetap Bugar

Baca juga: Kualitas Udara Buruk Landa Sejumlah Daerah, Ini Cara Lindungi Kesehatan Keluarga

Aturan Emas: Maksimal 16 Jam Terjaga

Dokter Alejandro D. Chediak menyoroti pentingnya mengatur waktu terjaga. Sebuah studi kronobiologi menunjukkan bahwa kinerja manusia menurun drastis setelah terjaga terlalu lama. “Ternyata 16 jam terjaga terus-menerus adalah titik di mana kondisi kita mulai menurun. Pada intinya, kita benar-benar tidak boleh terjaga lebih dari 16 jam berturut-turut, yang menyisakan delapan jam untuk tidur,” jelasnya.

Pesan ini penting terutama bagi kamu yang punya kebiasaan begadang atau jadwal kerja yang tidak menentu. Semakin lama tubuh dipaksa terjaga, semakin buruk pula konsentrasi, daya ingat, dan suasana hati. Tubuh pada dasarnya punya batas alami yang sebaiknya tidak dilanggar terus-menerus.

Kebutuhan Tidur Berbeda Tiap Usia

Menurut dokter James Herdegen dari American Medical Association (AMA), tenaga medis umumnya merekomendasikan orang dewasa tidur sekitar tujuh hingga delapan jam. Namun angka ini bukan patokan kaku. “Manusia bukanlah makhluk yang kaku, jadi ada kurvanya. Beberapa orang butuh sembilan jam, beberapa bisa cukup dengan tujuh jam,” ujarnya.

Remaja membutuhkan delapan hingga sembilan jam, anak-anak bisa sampai 12 jam, sementara lansia mungkin hanya tidur tujuh jam yang sering dikompensasi dengan tidur siang. Patokan utama, menurut Chediak, adalah bagaimana perasaanmu saat bangun: segar, fokus, dan bugar.

Konsistensi adalah Kunci

Kunci utama tidur berkualitas ternyata sederhana: keteraturan. Dokter Ilene Rosen menyarankan untuk tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari. Banyak pekerja yang jadwal tidurnya berantakan di hari kerja, lalu mencoba “balas dendam” dengan tidur hingga 10 jam di akhir pekan. Menurut Rosen, kebiasaan ini justru menciptakan semacam mini jet lag pada tubuh dan membuat ritme tidur makin kacau.

Mulai dari Jadwal yang Realistis

Alih-alih mengejar jumlah jam yang sempurna, dokter menyarankan membangun kebiasaan tidur yang stabil. Tetapkan jam tidur dan bangun yang realistis, hindari begadang berlebihan, dan perlakukan tidur sebagai kebutuhan wajib, bukan sisa waktu. Dengan ritme yang terjaga, tubuh akan lebih mudah terlelap, dan kamu pun terbangun dengan energi yang lebih baik setiap pagi.

Sumber: Kompas.com